


di ujung pekan, dia coba memanfaatkan kesempatan kedua.
pukul enam sore sesampai di shelter busway, dia segera membayar tiket, berlari kecil menghampiri bus yang berteriak memberitahu tujuannya. ancol. hanya dua penumpang termasuk dia yang ada di bus itu. sepi. sepanjang perjalanan selama setengah jam lebih, tetap saja bus itu ditumpangi tak lebih dari sepuluh orang. semakin mendekat dengan shelter tujuan hanya dia sendiri saja yang menjadi penumpang bus itu. selepas dari bus tersebut, dia menanyakan jadwal bus yang akan lewat terakhir di shelter itu, kemudian dia kembali menyebarang jembatan dan disapa dengan penjaga tiket yang mempersilakan membeli tiket memasuki gerbang taman impian. "selamat malam, mau masuk taman impian ya, silahkan membayar tiket, sepuluh ribu saja". "aku ambil tiketnya satu saja, oya, nanti akan ada pentas jedoar-jedor ya mas?" "iya benar, silakan menuruni penyebrangan ini kemudian naik saja selter bus warna putih". "baik, terima kasih ya!" hari sudah beranjak gelap, dia memutuskan untuk jalan kaki saja karena pikirnya tempatnya tidak terlalu jauh. sekitar satu kilometer dia berjalan ke tampat yang ada dipikirannya, tapi ternyata sepi-sepi saja, beberapa pasang malah memadu kasih, bikin dia iri saja. karena merasa berada di tempat yang salah, dia mencari tahu ke tukang penjaga warung, "selamat malam pak, numpang tanya, pentas jedar-jedornya di sebelah mana ya?" "wah, itu diujung dermaga sana, sekitar empat kilometer dari sini, mending naik selter bus saja, di seberang jalan ini nunggu busnya". "baik, terima kasih banyak ya pak". masih meraba-raba tujuan, dia membaca pengumuman kalo ternyata selter bus berakhir di sore hari, bearti pukul tujuh malam ini sudah tidak lewat lagi. maka dia mencari tahu lagi, di ujung belokan dia menghampiri petugas parkir lalu bertanya lokasi pentas jedar-jedor. "dari jalan sini, lurus saja, jika ada pertigaan, ambil saja terus arah ke kiri", begitu kata petugas satu. lalu datang petugas parkir dua, "jalan menuju situ bisa membingungkan dan itu jauh lho, sekitar lebih dari satu kilometer lagi, gini saja, kamu berani bayar berapa?" "waduh,ngasal banget nih petugas dua, manfaatin bgt sih, mata duitan banget" gak bakal dah, pikir dia. "wah, enggak deh pak, aku jalan kaki aja, paling parah cuma berjarak dua kilometer aja kan? jalan kaki aja deh biar nambah keringetan, hehehe.. makasih banyak ya, kalo nyasar kesini lagi deh, hehe.." setelah dia merekam dalam ingatan informasi yang diberikan petugas satu, dia melanjutkan langkah kakinya. "dasar, petugas kok kayak gitu, mata duitan banget, nyari-nyari kesempatan dalam kesulitan orang, heran ada orang kayak begitu". sekitar berjalan lima menitan, dari samping kanan ada suara, "hei, ayo sekalian saya saja" "waduh, gak usah pak, aku jalan kaki saja" "sudah, ayo gak apa, naik motor saya" "waduh, bayar berapa nih pak?" "sudah gak usah bayar" "oo, oke pak". ternyata seorang yang menawari tumpangan itu adalah petugas dua, petugas dua yang tadi itu aku 'rasani' petugas dua yang mata duitan itu, ternyata entah kerasukan apa, petugas dua dengan motornya menyusul dan menawarkan tumpangan. sepanjang perjalanan, jalan yang dilalui sangat macet, ternyata memang banyak sekali manusia-manusia yang juga penasaran ingin menyaksikan pentas jedar-jedor itu. dalam boncengan tersebut, terlontar beberapa pertanyaan basa-basi, dari pada kaku sepi. dia merasa terheran-heran dan ajaib juga bahwa petugas dua menyusul dirinya, dia mengagumi kebaikan petugas dua dalam hatinya, dia merasa ingin saja memberi selembar mata uang, tapi dia juga tidak punya banyak uang, maka setelah perjalanan sekitar sepuluhmenitan, sampai juga di tempat tujuan. "kamu tinggal lurus jalan itu saja, di ujung deket aw", demikian kata petugas dua. "iya pak, ini pak, seadanya saja" "gak usah mbak" "udah gak apa pak" si petugas dua berusaha mengelak pemberian uang selembar berwarna ungu itu. berusaha untuk menyelipkan di kantong kemeja depan, namun tak berhasil, akhirnya dia menyelipkannya di pegangan stang motor sebelah kiri petugas dua itu. "makasih banyak ya pak, sukses, berkat mengalir".
kembali jalan jaket jins belel yang mulai terasa basah dia khawatir bagaimana nanti pulang ke rumah, dia bertanya pada bapak separo tua berseragam biru. "angkutan umum sampai malam masih ada, tinggal jalan saja ke arah kanan sana", demikian informasi yang diberikan. dia sedikit lega dan melanjutkan langkahnya, akhirnya sampai juga di lokasi jedar-jedor, kerumunan manusia menumpuk di pesisir, panggung terbuka menghentak-hentak musik hiphop, beatbox tak ketinggalan, dibarengi dengan performa perkusi, pembawa acara bercuap-cuap interaksi dengan penonton, gubernur pun tak ketinggalan hadir menyaksikan. tembakan lampu hijau, kuning biru menyelimuti area pantai, hentakan musik mix mengiringi tari api. satu setengah jam menunggu, saat pentas kembang api pun dimulai... jedar-jedor pun pasang aksi, melambung tinggi di udara dibarengi ratusan penggemarnya yang dengan persenjataan jepretan super lengkap membidik mengambil gambar aksinya, mencuat, meledak, menyebar, berwarnawarni, menghias kegelapan. perpaduan irama musik membuat aksi jedar-jedor ampak serasi dan indah. hanya sekitar duapuluh menitan aksi berlangsung, setelah itu rintik hujan mulai turun. para pengagum jedar-jedor pun berlahan membubarkan diri.
pukul sepuluhan malam, dia bingung bagaimana cara pulang ke rumah. dia bertanya lagi pada mbak yang pegang sapu lidi. "lurus aja, belok kiri sampai ketemu jalan raya. kalo menuju senen, kamu nyebrang ya" demikian informasi dari mbak pemegang sapu lidi. "makasih banyak ya mbak!" langkah pun berlanjut. agak bingung di daerah yang asing bagi diri dia. dia kembali bertanya pada seorang yang bertampang anak kuliahan. "tinggal di seberang sana mbak. naik angkot aja" "baik makasih ya dek" di seberang jalan itu beberapa manusia naek angkot, tapi dia masih ragu, rintik hujan kian gencar, dia bertanya lagi kepada mbak penunggu dipinggir jalan. " naek bis nomer 27 aja, lewat sini kok" sekitar tujuh menitan menunggu, datang juga bis itu, dia langsung naik bis, hujan pun kian deras. bayar bis dua ribu bersama penumpang yang lain yang entah mereka akan kemana. sesampai di senen, hujan kembali rintik, nah kalo di daerah sini dia sudah hapal, langsung saja dia naek angkutan kota menuju kp melayu. baru semenitan naik angkutan umum, hujan kembali deras, pukul setengah sebelas malam itu,hanya dia sendiri yang menumpang di angkutan itu. di belokan depan karena butuh lagi penumpang, angkutan pun menepi, ngetem. sekitar delapan menitan ngetem, ada tiga penumpang baru, angkutan pun kembali jalan. hujan bertambah deras. melewati daerah senen penumpang lain berdatangan hingga bangku terisi semua. namun setelah jatinegara hanya dia yang jadi penumpang angkutan itu. pukul sebelasan lanjut dia naik angkutan ke daerah cililitan. perjalanan lancar ditemani beberapa penumpang lainnya. dua puluh menitan kemudian sampai di cililitan dan langsung naik angkutan yang menuju daerah rumah dia. dari pada bengong nunggu angkutan itu ngetem, suara radio mencolok di telinga dia. terdengar percakapan soal kekecewaan, kepahitan dan apalah itu sehubungan dengan menghadapi tahun yang baru. pasar yang dilewati sepanjang perjalanan memberi kesan tersendiri, terasa ingin melebur bersama mereka dan menikmati indahnya malam. namun angkutan tidak peduli itu dan terus saja melaju. setelah dua puluh menitan menit, sampai juga di rumah untungnya pintu belum terkunci. pukul duabelasan lewat dia langsung ambil kameranya yang sedari tadi terus lampu loadingnya berkedip. sepertinya hang, langsung saja dia mencopot secara paksa baterenya. kemudian dipasang kembali batere itu.
uuhh, hasil jepretannya sangat tidak memuaskan. dia sedikit banyak kesal karenanya. ahhhh... semua ngeblur, tripod tak ada, diafragma gak pas, kecepatan rana nya pun ngaco, isonya sepertinya juga gak sesuai. duhhh.. sangat-sangat exposure yang gagap.. aaagghh..
yah tak apalah hasil jepret di kesempatan kedua ini gagal, namun yang pasti dia tak ragu lagi untuk belajar kembali mencoba dan tak ada satu hal pun yang akan jadi penghalang karena dia punya DIA yang selalu ada di sekitar ... menyertai, menemani dan menjaga.
ps. aku masih belum pinter njepret kembang api. tapi aku gak takut hunting sendirian, hehehe... :D
foto: jepretan yang masih gagap dari "The Thrilling Spectacular Fireworks in Ancol Sky" . jakarta, 8/1/2011
"hidup itu seperti kembang api, selalu meledak-ledak namun nampak indah"ps. heleh .. semoga kembang apiku gak mejen!
foto: susahnya njepret kembang api (di pekarangan Taman Mini Indonesia Indah, jakarta-01012011)
saat lembayung senja ragu menyapa, si angin baru asyik berputar-putar bermain bersama pasir putih di pesisir pantai itu. baru sekarang ini sejak angin muson mereda, si angin baru merasakan ketenangan dalam hidupnya, ringan tanpa beban. namun sejak semalam dalam rihatnya, si angin baru merindukan napas yang terembus dari pencipta. ya, si angin baru sungguh merindukan napas yang terembus dari pencipta, karena si angin baru menyadari napas tersebut adalah muasalnya, namun si angin baru tak mengerti mengapa dirinya jadi terpisah dari napas embusan pencipta. "ah, mungkin esok aku akan kembali bersatu dengan napas embusan pencipta", begitulah selalu yang diucapkan si angin baru untuk mencoba menguatkan diri dan kembali bersemangat.
di pergantian waktu seketika, angin kering menyerap uap air udara di sekitar si angin baru. biasanya jika hal tersebut terjadi maka cepat atau lambat akan terbentuk gurun karenanya. soalnya angin kering tersebut adalah utusan dari angin anti passat si empunya kerajaan di belahan bumi utara. angin anti passat itulah yang suka memperluas kerajaan gurunnya di muka bumi ini. si angin baru senang-senang saja mendengar kabar kedatangan angin kering, bisa jadi angin kering akan menyampaikan pesan rindu napas embusan pencipta untuk si angin baru. makanya esok harinya si angin baru menjumpai angin kering. "hai angin kering adakah pesan untuk ku yang ingin kau sampaikan?" ujar si angin baru. angin kering pun berucap, "oh, sayang seribu sayang tidak ada pesan yang dapat aku sampaikan untukmu, sabar sajalah mungkin musim berikutnya akan ada yang menitipkan pesan untukmu". pasir putih yang selalu menyertai si angin baru berputar-putar mengkrucut ke atas, menandakan si angin baru sedikit tidak puas dengan jawaban angin kering. biasanya jika si angin baru mengalami kemelut seperti itu segera saja ia melambung ke atas mencari burung langit sahabatnya. di pucuk nyiur burung langit bertengger sambil bersiul mengiringi tarian angin pantai. si angin baru segera mendekati nyiur dan menonton tarian angin pantai yang memberi kesegaran dalam kemelut si angin baru. nyiur di sekitar ikut melambai-lambai, daun-daun pun bergoyang, ombak ikutan berguling mengantarkan buihnya mencium bibir pantai, awan berarak menyulap dirinya membentuk gumpalan dan memecah dirinya dan berlari ke segala arah, tak ketinggalan layang-layang pun berlomba mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi.
burung langit sejak dari tadi menyadari kehadiran si angin baru, lalu burung langit memohon temannya untuk berganti bersiul mengiringi tarian angin pantai. si angin baru pun menyapa burung langit dengan belaian sejuknya. "hai angin baru!", sapa burung langit. si angin baru mendesir menjawab sapa burung langit. "aku iri padamu wahai burung langit, karena kau bisa bebas terbang kemanapun kau mau, tak ada sesuatu pun yang kau khawatirkan karena alam menyediakan segala yang kau butuhkan", ucap si angin baru pada burung langit. dengan senyumnya burung langit balas mengucap, "ya, itu karena pencipta turut menjagaku dan aku berterima kasih atas segala hal tersebut, namun ada satu hal yang kau juga perlu sadari, wahai angin baru. sadarilah bahwa kau pun juga mempunyai hak yang tak jauh beda dengan diriku, kau pun bisa berhembus kemana kau suka, kau bebas pergi kemana kau mau dan satu hal yang pasti, semesta raya akan bersamamu selalu, jadi tak ada suatu hal pun yang menjadi halangan bagimu, segala penjuru mata angin akan dengan senang hati menyertaimu". "... aku tahu hingga saat ini kau merindu napas embusan pencipta, jika suatu hal tak kunjung menghampirimu, ada baiknya kau saja yang menjemput hal yang rindukan tersebut, wahai angin baru".
"ya, kau benar sekali burung langit, sahabatku. kau kembali menyadarkanku tentang hal ini. jika begitu adanya, aku tak akan menunggu dan berdiam saja, aku akan mejelajah ke segala mata angin. baiklah kiranya aku akan pergi ke selatan memulai penjelajahanku mencari napas embusan pencipta. ya!"
ps. ingin menembus hampa menuju selatan ...
foto: pantai paringtritis nampak dari beranda queen of the south beach hotel. tepi jogja, 2004
jejeran batang kayu tertata rapi membentuk bentangan sekitar 2,5 meter dan kibaran helai kain menjadi layar sebuah perahu yang dianggap sebagai perahu layar. pelayar ada disitu, ditemani seekor ikan kecil yang ditemukan pelayar saat tergelepar karena lemparan ombak.
sejak tadi pagi memang angin mulai mengamuk, entah mengapa, tapi sepertinya karena semalam rembulan ogah bermesraan dengannya, makanya pagi ini angin melampiaskan amuknya. jadinya pelayar yang kena imbasnya. berulang kali pelayar berusaha ajak ngobrol angin supaya menyudahi amuknya. tapi tetap saja tidak mempan, angin akan berhenti mengamuk setelah bertemu kembali dengan rembulan malam ini. maka pelayar menerima saja kenyataan, menikmati sisa amukan angin di petang hari itu.di tengah sisa amukan angin itu, pelayar menerawang. melintas bayang masa lalu dan setitik cahaya masa depan."i will sailing home, to where my ignorance belong", tekad si pelayar.
sebelumnya ...
perempuan taktahumenahu kembali bangun dengan ribuan pertanyaan di kepalanya.
"seperti apa rasanya menantikan yang ditunggu di tengah kemustahilan?"
""bila ada pohon tumbang di tengah hutan, dan tidak ada orang yang mendengarnya, apakah tumbangnya pohon menimbulkan bunyi?"
"adakah celaka yang pandang bulu?"
"kenapa penyesalan selalu datang terlambat?
"kapankah matahari terbit dari arah barat?"
"seperti apa bunyi tepukan sebelah tangan?"
"bolehkah mengharap keajaibanyang telah kadarluarsa?
"dimana alamat ketiadaan?"
"tuhan itu apa agamanya?"
"cinta?"
"pertanyaan apa yang tak punya jawaban?"
perempuan taktahumenahu mempunyai kerinduan untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan
tersebut.
kemudian ...
dalam pelukan dingin embun dan senyuman hangat surya, langkah kaki perempuan taktahumenahu sedikit dipercepat karena ingin mengejar suatu jawab. di setiap persimpangan jalan, perempuan taktahumenahu melepaskan pertanyaan kepada apa dan siapa saja yang ia temui, guna ia barter dengan sebuah jawaban. namun, sudah puluhan kilometer ia tempuh, sama sekali tak satu pun jawaban ia peroleh. saat daun-daun berguguran di kerontangnya kemarau, perempuan taktahumenahu tak lagi betah dengan daratan, ia ingin menjadi bagian dari samudra raya dan lebih mendekat pada kaki langit. maka jadilah perempuan taktahumenahu memulai petualangan barunya dengan berlayar, seraya berkata, "i will sailing home, to where my ignorance belong"
ps. pengen makan bayam yang banyak biar kayak popeye the sailorman.. toeett.. tooett.. :p
foto: perahu layangan di pantai tanjung benoa, bali, 2005
di musim penghujan bulan juli pada suatu sawah, seekor kodok hijau kebiruan bernyanyi sendiri, mendendangkan lagu sukacita. kodok itu merasa bahagia karena penghujan datang di musim kemarau.
terik panas yang kemarin membakar ubun-ubun kini berganti kesejukan angin penghujan.
sang kodok senang tinggal di sawah belakang rumah milik seorang bapak tua bercaping, karena sawahnya tampak subur di setiap musimnya, tak peduli saat kemarau atau saat wereng sekalipun tetap saja sawah itu mampu memberikan hasil tanaman yang tidak mengecewakan. sebenarnya ada lagi yang membuat sang kodok betah tinggal di sawah pak tua bercaping. alasannya adalah karena sang kodok senang mengawasi seorang putri yang sering membantu pak tua bercaping bekerja di sawah. ya, putri itu adalah cucu dari pak tua bercaping. putri yang sejak berumur 5 tahun ditinggal pergi kedua orang tuanya. setiap pagi jika putri mulai menggarap sawah bersama pak tua bercaping, sang kodok berusaha untuk mendekati putri. telah puluhan musim berganti, namun sang kodok belum punya keberanian untuk berkenalan dengan sang putri.
hingga suatu pagi saat panen padi tiba, ketika sang putri sejenak beristirahat, sang kodok membulatkan niatnya berkenalan dengan sang putri. hanya butuh lima loncatan untuk kemudian sampai dan bersentuhan dengan kaki sang putri. sang putri sedikit terkejut dan kemudian melihat ke arah bawah. sang putri melihat di sebelah kaki kanannya ada sang kodok, langsung saja sang putri berjongkok dan memandangi sang kodok. kedua pasang mata saling beradu dan terkejap. sang putri melemparkan senyumnya pada sang kodok. sang kodok tertegun dan beberapa detik kemudian sang kodok meloncat menjauh dari sang putri. sang kodok meloncat mencari tumpukan padi untuk bersembunyi. sang putri pun tetap tersenyum mengiringi loncatan sang kodok.
jantung sang kodok berdetak cepat dibarengi senyum sang kodok yang tambah melebar. "ugh... senyata dan sedekat itu namun lidahku kelu tuk menyapa", gumam sang kodok ". sampai kapan rasa tak menentu ini usai, hm...biar segera kusudahi saja dan berhenti membodohi diriku sendiri, besok akan kembali kudekati sang putri dan berkenalan dengannya, ya."
esok pun berubah menjadi hari ini. hari saat mentari menyebarkan kehangatan bagi semesta. kehangatan mentari ikut menyentuh halus tubuh sang putri yang bersiap memanen padi yang telah menguning. tak jauh dari situ pula sang kodok dengan bulat hati bersiap menghampiri sang putri untuk berkenalan dengannya. perlahan sang kodok meloncat kecil mengatur detak jantungnya. bersamaan dengan loncatan kedua, sang kodok melihat ular setengah tua merayap dan mendesis mengarahkan dirinya pada sang putri yang masih sibuk memangkas padi menguning. sang kodok terkejut dan segera saja mempercepat loncatannya. dengan inderanya ular menyadari kehadiran sang kodok yang semakin mendekatinya. maka ular pun mempercepat rayapannya segera hendak mencatok tungkai kaki sang putri. sekuat tenaga kodok meloncat di saat yang sama ketika ular ambil ancang-ancang untuk mencatok melebarkan mulutnya . "haaappp.. aaagghh..." seketika sang putri melihat dibelakangnya, tampak jelas sang kodok meyediakan dirinya masuk kedalam mulut ular yang menganga sang putri sungguh kaget melihatnya, dengan secepat kilat langsung sang putri mengarahkan cluritnya pada badan ular, "jleebb".. clurit mendarat di perut ular. ular pun melemaskan gigitannya pada sang kodok sambil menahan rasa sakit dan memuntahkan sang kodok, dan segera melarikan diri dengan sobekan di perutnya. segera sang putri melihat sang kodok yang terkapar lemas di tanah sawah itu.
dengan setengah sadar dan tetap mengembangkan senyumnya, sang kodok memaku pandangannya pada wajah putri yang melas berseri. bingung hendak berbuat apa sang putri hanya memandangi sang kodok yang masih terkapar sambil menggerakkan bibirnya serasa mengatakan sesuatu, namun sang putri tidak mendengar suaranya dengan jelas, dan tak mengerti apa maksudnya.
"oh sang putri, diwaktuku yang singkat ini izinkan aku bekenalan denganmu ..." rintih sang kodok.
ps. aku pengen jadi petani aja deh ...
foto: sepenggal alam jogja nampak dari atas di jalan patuk, wonosari. november 2010
lumayan untuk minggu ini, hasil rampasannya bisa menyumpal peti yang tergeletak begitu saja di bawah stalaktit sebuah gua yang dari jauh mirip lubang mata tengkorak.
diawali ketika embun pagi mulai menetes pada sebuah ranting kering. ketika keluarga burung masih terlelap, sedikit waktu lagi bagi mereka menyiapkan energi untuk kicauan berikutnya. hanya suara desah angin yang sedikit gelisah, dan gemericik aliran sungai yang tak pernah haus, serta dengungan kumbang yang tak bisa tidur; melebur dan mencipta orkestra. pepohonan pun gemulai menari melambai-lambai ke kiri dan kanan menyerap gelombang orkestra yang memancarkan keteduhan di sekitar. seketika sekelebat bayang penyamun menyeruak dari semak belukar, memecah alunan orkestra, menyumbangkan suara ngilu di hati. dengan penuh sadar, penyamun mengambil ancang-ancang; menyedot angin, membendung sungai, serta membidik kumbang,juga tak lupa menebang pepohonan, sehingga seketika keteduhan sirna. dan keteduhan pun terampas!
sejak akhir musim kemarin dimana keteduhan menjadi langka, sejak saat itu pula penyamun berniat untuk merampasnya saja sekalian, seberapa pun yang tersisa. dengan merampas begitu, penyamun merasakan sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya.perasaan asing yang menyusup dalam dada yang melancarkan hela nafas. "ha .. ha.. ha.. biar tahu rasa! biar saja sekarang kekacauan yang berkuasa di semesta sana. ha.. ha.. ha...". dengan tawa lepasnya penyamun menaruh keteduhan, hasil rampasannya itu ke dalam peti di goa tempat tinggalnya.
hingga pada suatu hari, saat mentari enggan hadir mengawali hari, saat gelap pekat masih menyelimuti goa tempat tinggal si penyamun, saat kejapan pertama mengetuk isi kepala, penyamun segera bangkit dan melebarkan senyumnya. "hmm... selanjutnya akan kuperankan suatu rampasan mulia, aku akan merampas iman, pengharapan, dan kasih!
di hari baru saat awan kembali berarak, penyamun menyebarkan pandangannya mencari iman untuk di rampas. sejauh mata memandang di tengah padang rerumputan, berdiri tegap pohon sesawi. daun hijau segarnya melambai seakan menggoda minta diperhatikan. segera saja penyamun mempercepat langkah menuju ke sana. sembari merenggangkan kakinya, penyamun berteduh di bawahnya. tak seberapa lama ia ingat akan cerita ibunya tentang seseorang yang mampu memindahkan gunung hanya dengan berbekal biji sesawi. maka akal bulusnya segera bekerja, ia keluarkan pisau lipat yang ada di kantongnya dan mulai menggelitik batang pohon sesawi hingga semua biji sesawi berjatuhan. tak dihiraukannya batang sesawi yang meronta dalam tawa kegeliannya memohon si penyamun menyudahi gelitikannya itu. terus saja penyamun dengan pisau lipatnya menggelitik, menggelitik, dan menggelitiki sampai semua biji-biji sesawi berguguran. "nah... ada baiknya segera aku kumpulkan biji-biji ini untuk menambah sumpalan di peti ku tersayang."
saat mentari berbenturan dengan rembulan, penyamun menempatkan dirinya pada sebuah pelabuhan. derai angin laut menampar-nampar wajah penyamun, hingga penyamun merasa terbuai dengan tamparan angin itu. di dermaga sana tampak sebuah kapal siap berlabuh. segera saja penyamun menuju dermaga menghampiri kapal tersebut. kapal duluan yang sampai di dermaga, disusul penyamun. biasanya kapal itu hanya menurunkan peti kemas untuk dibongkar muatannya dan disebar bagi para manusia di sekitar. penyamun pun hanya menunggu di situ. cukup lama bintang-bintang bermain mata dengan rembulan hingga rembulan hanya menyisakan sebagian wajahnya menjadi sabit. penyamun hanya menengadah ke atas melihat polah tingkah mereka. sambil teringat petuah ibunya yang mengatakan bahwa pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa. bersamaan dengan kejapan mata, terbesit sedikit keinginan penyamun untuk bergabung bermain bersama bintang dan rembulan di atas sana, tapi segera penyamun menempeleng kesadarannya dan kembali pada perburuan keduanya. merampas iman. ketika kapal berteriak mengajak seluruh penunggang kapal agar siap kembali berlayar, penyamun menajamkan kesadarannya, ia mendekati kapal dan tanpa sepengetahuan siapa-siapa, penyamun mencongkel sauh kapal itu. sebelum sauh itu mendarat di permukaan laut, penyamun segera meloncat dan menangkap sauh itu. meski badannya kurus kering, penyamun sanggup menggendong sauh yang tampak berat dan kuat itu sambil berjalan kaki menuju goa, istananya.
sesampai di istana goa itu, langsung saja penyamun menyumpal petinya dengan iman, makin bertambah sesak saja isi di dalam peti tu, namun masih ada satu rencana rampasan yang belum dilakukan. bagian dari 3 rampasan mulia itu. iman telah terampas, pengharapan pun juga dirampas. untuk selanjutnya kasih yang perlu dirampas. sambil duduk mengamati petinya yang penuh sumpalan, penyamun mengernyit, ia teringat tadi dalam perjalanannya sewaktu melewati pinggir pasar, penyamun mendengar desus orang-orang membicarakan bahwa esok di hari eksekusi ada seorang Manusia yang rela dihukum mati di kayu salib, sebagai bentuk kasihNya pada orang-orang. penyamun bingung dan bertanya dalam benaknya, "kok bisa-bisanya manusia itu rela dihukum mati. padahal ia sama sekali tidak bersalah, bagaimana mungkin ia rela menderita seperti itu demi menanggung kesalahan orang lain. kasih yang macam apa yang dimiliki manusia itu. hmm.. aku ingin merampas kasih itu, aku tak rela Dia yang tergantung di salib sana dengan berlandas kasih itu. aku yakinkan diriku bahwa aku saja yang berada di tengah pada salib itu, ya hanya dengan cara seperti itu aku mampu merampas kasihNya. sekian tahun aku menjalani hari-hariku, aku mendambakan keutuhan dan kesejatian hidup. walau waktuku terhenti dan tak ada lagi, asal aku berhasil merampas kasih, cukup bagiku."
ps. aku terancam, yang duduk di sebelah kiriNya ...
foto: lingkungan goa maria tritis, paliyan, wonosari-jawa tengah, november 2010
jarak dan waktu pada akhirnya menyudahi perantauannya, maka segera ku bertanya, "apa kabar di hidupmu?"
di ujung pelangi sebuah kisah cinta mulai dibangun, penuh dengan warna-warni indah nan menyenangkan.
hamparan padang rumput hijau bak permadani yang menjadi landasan, senantiasa menularkan sukacita pada hati dan jiwa yang rapuh. aliran sungai di tepi tiada henti menyuguhkan kesegaran untuk siap direguk setiap harinya.
"tak pernah jauh lebih baik dibanding saat ini ketika ku jumpa dirimu"
hari-hari dijalani bersama tanpa ragu dan mantap mencetak jejak. perselisihan menjadi citarasa tiada banding yang membuahkan kepercayaan satu sama lain.
"tunggu ... dahulu kala tetes airmata terus mengalir karenamu ..."
saat-saat penuh kehangatan manakala sang surya kembali tersenyum setelah amukan badai yang menerjang.
saat seteru dua hati yang kembali berpadu.
"dari lubuk hatiku terdalam biarlah berkumandang sesal sampai tujuh puluh kali tujuh kali".
ketika rumput tetangga terasa lebih hijau, keinginan menggebu untuk memilikinya gencar menyerang, namun kehadirannya yang setia menemani tak pernah bosan ikut menjaga hati. waktu boleh terus bergulir dan usia boleh terus menua, namun yang pasti ketulusan kasih dari bening hatinya kan tetap abadi selamanya.
mencintai memang harus dimiliki, dicintai memang tidak harus mempunyai.
ps. lagi bergelayutan di dunia ide(nya plato) ...
aahh ... mending seperti donal bebek+desi bebek yang selalu setia walau bajunya itu-itu aja dan tak pernah (tak akan pernah) pake baju manten.
foto: k.a.s.i.h - ribka sebagai k, rechant sebagai a, renren sebagai s, henhen sebagai i, diana sebagai h
- gw jepret di lingkungan kampus UGM, jogja, 2006.