Monday, June 20, 2011

motoduiten

alkisah ... di keramaian pasar desa motoduiten, ratusan receh dengan riang menikmati perpindahan dari tangan ke tangan. gemerincing saling beradu ketika terbalas dengan seprapattiga ikat sawi hijau. gope’an saling berloncatan pindah ke satu tangan ke tangan lainnya, secengan pun pindah kendali dari tukang parkir ke pengendara roda dua. cepe’an, gocapan dan jigoan tak mau kalah, mereka bersatu membentuk nilai yang setara dengan gopekan atau pun secengan. makin berat receh yang terkumpul, makin berat pula lah kocek si empunya. belum lagi soal tumpukan nominal kertas yang dengan pamornya terkibas dalam genggaman tangan. warna hijau, ungu, apalagi merah, walaupun lecek kucel kumel tetap saja digandrungi.

begitulah recehan dan lembaran selalu digandrungi kebanyakan orang, semua berlomba memiliki sebanyak-banyaknya hingga banting tulang & meras keringat sampai lupa waktu, dan tak dapat dipungkiri ada dari orang-orang itu yang juga menghalalkan segala macam cara. “berani brapa..? saya jamin keperluan anda akan cepat saya selesaikan, sehari jadi, tinggal tunggu duduk diam manis saja, asalkan rupiah mengalir ke rekening saya!” tak hanya itu, lihat saja itu si tikus berambut hitam menggerogoti pundi-pundi uang yang bukan menjadi hak nya.

dalam benak orang-orang, recehan & lembaran akan mendatangkan kebahagiaan, namun di sisi lain tak sedikit kasus yang justru menjadi bumerang bagi mereka,bukan bahagia yang didapat, justru petaka yang datang. ada pula hal bodoh yg sadar tak sadar dilakukan orang-orang, mereka mengorbankan kebahagiaan hati demi uang. bekerja saat matahari baru terbit dan pulang saat surya tenggelam, melupakan teriakan hati yang lelah diperhamba uang. memang tak heran jika recehan & lembaran terkenal membawa keuntungkan sekaligus merugikan, yang mampu membuai lidah sekaligus meledakkan perut, byaaaarrr, ceprottt..!

panas ditangan busuk dihati membuat sandungan di kaki. makan tuh uang!!

ps. hueekkk... aku keracunan ...

foto: bongkar celengan setelah setahunan..


Tuesday, February 1, 2011

fatamorgana

cuplikan kisah yang tak mungkin dicapai,

hawa panas membakar sampai ke ubun-ubun. perlahan terasa otak ini mendidih. meletup-letup mengguncang syaraf memori yang tak kunjung aus merekam waktu fana. terekam sekali lagi ... bukannya dia tidak mau sendiri, hanya saja kesendirian selalu merengek minta ditemani sedangkan temani selalu saja punya alasan untuk mendekati kesendirian pada dia. maka jadilah seringkali dia dan sendiri berteman.

saat itu bulan memerah tersipu mengawali proses purnama yang ditunggu dia. seperti bulan-bulan sebelumnya, dengan semangat penuh, malam ini pun bulan ditungguinya menjadi utuh berpurnama. bukan saja bulan merasa tersanjung, ia juga merasa tak enak hati diharap-harap dia setiap bulannya, jadinya malah tersipulah rembulan. bulan mempunyai cara tersendiri jika ia tersipu, yaitu ia seolah bergerak menjauh dalam hitungan setiap kejapan mata. hal tersebut telah diperhatikan dia dengan seksama, maka sebisa mungkin dia mengurangi kejapan matanya agar merasakan rembulan seolah mendekati dia. tapi sebagai orang biasa dia tak bisa terus-terusan menahan kejapan matanya, tanpa dia sadari malah dengan sendirinya mata pun terkejap. menyadari keterbatasan penglihatan mata, maka dia mencoba mengandalkan hatinya dengan harapan hati dia tak akan terpengaruh oleh kejapan mata yang membuat rembulan seolah menjauh. dia ingin mempercayai hatinya yang meyakini apa dan bagaimanapun rembulan akan seutuh purnama yang perlahan mendekati dia pada saatnya nanti.

ps. fa·ta·mor·ga·na n 1 gejala optis yg tampak pd permukaan yg panas, yg kelihatan spt genangan air; 2 hal yg bersifat khayal dan tidak mungkin dicapai

foto: gw ama fia tengah malam geletakan di tengah jalan wisata grojogan sewu tawangmangu,
jawa tengah, 2004

Saturday, January 8, 2011

jedar jedor (lagi)




di ujung pekan, dia coba memanfaatkan kesempatan kedua.

pukul enam sore sesampai di shelter busway, dia segera membayar tiket, berlari kecil menghampiri bus yang berteriak memberitahu tujuannya. ancol. hanya dua penumpang termasuk dia yang ada di bus itu. sepi. sepanjang perjalanan selama setengah jam lebih, tetap saja bus itu ditumpangi tak lebih dari sepuluh orang. semakin mendekat dengan shelter tujuan hanya dia sendiri saja yang menjadi penumpang bus itu. selepas dari bus tersebut, dia menanyakan jadwal bus yang akan lewat terakhir di shelter itu, kemudian dia kembali menyebarang jembatan dan disapa dengan penjaga tiket yang mempersilakan membeli tiket memasuki gerbang taman impian. "selamat malam, mau masuk taman impian ya, silahkan membayar tiket, sepuluh ribu saja". "aku ambil tiketnya satu saja, oya, nanti akan ada pentas jedoar-jedor ya mas?" "iya benar, silakan menuruni penyebrangan ini kemudian naik saja selter bus warna putih". "baik, terima kasih ya!" hari sudah beranjak gelap, dia memutuskan untuk jalan kaki saja karena pikirnya tempatnya tidak terlalu jauh. sekitar satu kilometer dia berjalan ke tampat yang ada dipikirannya, tapi ternyata sepi-sepi saja, beberapa pasang malah memadu kasih, bikin dia iri saja. karena merasa berada di tempat yang salah, dia mencari tahu ke tukang penjaga warung, "selamat malam pak, numpang tanya, pentas jedar-jedornya di sebelah mana ya?" "wah, itu diujung dermaga sana, sekitar empat kilometer dari sini, mending naik selter bus saja, di seberang jalan ini nunggu busnya". "baik, terima kasih banyak ya pak". masih meraba-raba tujuan, dia membaca pengumuman kalo ternyata selter bus berakhir di sore hari, bearti pukul tujuh malam ini sudah tidak lewat lagi. maka dia mencari tahu lagi, di ujung belokan dia menghampiri petugas parkir lalu bertanya lokasi pentas jedar-jedor. "dari jalan sini, lurus saja, jika ada pertigaan, ambil saja terus arah ke kiri", begitu kata petugas satu. lalu datang petugas parkir dua, "jalan menuju situ bisa membingungkan dan itu jauh lho, sekitar lebih dari satu kilometer lagi, gini saja, kamu berani bayar berapa?" "waduh,ngasal banget nih petugas dua, manfaatin bgt sih, mata duitan banget" gak bakal dah, pikir dia. "wah, enggak deh pak, aku jalan kaki aja, paling parah cuma berjarak dua kilometer aja kan? jalan kaki aja deh biar nambah keringetan, hehehe.. makasih banyak ya, kalo nyasar kesini lagi deh, hehe.." setelah dia merekam dalam ingatan informasi yang diberikan petugas satu, dia melanjutkan langkah kakinya. "dasar, petugas kok kayak gitu, mata duitan banget, nyari-nyari kesempatan dalam kesulitan orang, heran ada orang kayak begitu". sekitar berjalan lima menitan, dari samping kanan ada suara, "hei, ayo sekalian saya saja" "waduh, gak usah pak, aku jalan kaki saja" "sudah, ayo gak apa, naik motor saya" "waduh, bayar berapa nih pak?" "sudah gak usah bayar" "oo, oke pak". ternyata seorang yang menawari tumpangan itu adalah petugas dua, petugas dua yang tadi itu aku 'rasani' petugas dua yang mata duitan itu, ternyata entah kerasukan apa, petugas dua dengan motornya menyusul dan menawarkan tumpangan. sepanjang perjalanan, jalan yang dilalui sangat macet, ternyata memang banyak sekali manusia-manusia yang juga penasaran ingin menyaksikan pentas jedar-jedor itu. dalam boncengan tersebut, terlontar beberapa pertanyaan basa-basi, dari pada kaku sepi. dia merasa terheran-heran dan ajaib juga bahwa petugas dua menyusul dirinya, dia mengagumi kebaikan petugas dua dalam hatinya, dia merasa ingin saja memberi selembar mata uang, tapi dia juga tidak punya banyak uang, maka setelah perjalanan sekitar sepuluhmenitan, sampai juga di tempat tujuan. "kamu tinggal lurus jalan itu saja, di ujung deket aw", demikian kata petugas dua. "iya pak, ini pak, seadanya saja" "gak usah mbak" "udah gak apa pak" si petugas dua berusaha mengelak pemberian uang selembar berwarna ungu itu. berusaha untuk menyelipkan di kantong kemeja depan, namun tak berhasil, akhirnya dia menyelipkannya di pegangan stang motor sebelah kiri petugas dua itu. "makasih banyak ya pak, sukses, berkat mengalir".

kembali jalan jaket jins belel yang mulai terasa basah dia khawatir bagaimana nanti pulang ke rumah, dia bertanya pada bapak separo tua berseragam biru. "angkutan umum sampai malam masih ada, tinggal jalan saja ke arah kanan sana", demikian informasi yang diberikan. dia sedikit lega dan melanjutkan langkahnya, akhirnya sampai juga di lokasi jedar-jedor, kerumunan manusia menumpuk di pesisir, panggung terbuka menghentak-hentak musik hiphop, beatbox tak ketinggalan, dibarengi dengan performa perkusi, pembawa acara bercuap-cuap interaksi dengan penonton, gubernur pun tak ketinggalan hadir menyaksikan. tembakan lampu hijau, kuning biru menyelimuti area pantai, hentakan musik mix mengiringi tari api. satu setengah jam menunggu, saat pentas kembang api pun dimulai... jedar-jedor pun pasang aksi, melambung tinggi di udara dibarengi ratusan penggemarnya yang dengan persenjataan jepretan super lengkap membidik mengambil gambar aksinya, mencuat, meledak, menyebar, berwarnawarni, menghias kegelapan. perpaduan irama musik membuat aksi jedar-jedor ampak serasi dan indah. hanya sekitar duapuluh menitan aksi berlangsung, setelah itu rintik hujan mulai turun. para pengagum jedar-jedor pun berlahan membubarkan diri.

pukul sepuluhan malam, dia bingung bagaimana cara pulang ke rumah. dia bertanya lagi pada mbak yang pegang sapu lidi. "lurus aja, belok kiri sampai ketemu jalan raya. kalo menuju senen, kamu nyebrang ya" demikian informasi dari mbak pemegang sapu lidi. "makasih banyak ya mbak!" langkah pun berlanjut. agak bingung di daerah yang asing bagi diri dia. dia kembali bertanya pada seorang yang bertampang anak kuliahan. "tinggal di seberang sana mbak. naik angkot aja" "baik makasih ya dek" di seberang jalan itu beberapa manusia naek angkot, tapi dia masih ragu, rintik hujan kian gencar, dia bertanya lagi kepada mbak penunggu dipinggir jalan. " naek bis nomer 27 aja, lewat sini kok" sekitar tujuh menitan menunggu, datang juga bis itu, dia langsung naik bis, hujan pun kian deras. bayar bis dua ribu bersama penumpang yang lain yang entah mereka akan kemana. sesampai di senen, hujan kembali rintik, nah kalo di daerah sini dia sudah hapal, langsung saja dia naek angkutan kota menuju kp melayu. baru semenitan naik angkutan umum, hujan kembali deras, pukul setengah sebelas malam itu,hanya dia sendiri yang menumpang di angkutan itu. di belokan depan karena butuh lagi penumpang, angkutan pun menepi, ngetem. sekitar delapan menitan ngetem, ada tiga penumpang baru, angkutan pun kembali jalan. hujan bertambah deras. melewati daerah senen penumpang lain berdatangan hingga bangku terisi semua. namun setelah jatinegara hanya dia yang jadi penumpang angkutan itu. pukul sebelasan lanjut dia naik angkutan ke daerah cililitan. perjalanan lancar ditemani beberapa penumpang lainnya. dua puluh menitan kemudian sampai di cililitan dan langsung naik angkutan yang menuju daerah rumah dia. dari pada bengong nunggu angkutan itu ngetem, suara radio mencolok di telinga dia. terdengar percakapan soal kekecewaan, kepahitan dan apalah itu sehubungan dengan menghadapi tahun yang baru. pasar yang dilewati sepanjang perjalanan memberi kesan tersendiri, terasa ingin melebur bersama mereka dan menikmati indahnya malam. namun angkutan tidak peduli itu dan terus saja melaju. setelah dua puluh menitan menit, sampai juga di rumah untungnya pintu belum terkunci. pukul duabelasan lewat dia langsung ambil kameranya yang sedari tadi terus lampu loadingnya berkedip. sepertinya hang, langsung saja dia mencopot secara paksa baterenya. kemudian dipasang kembali batere itu.

uuhh, hasil jepretannya sangat tidak memuaskan. dia sedikit banyak kesal karenanya. ahhhh... semua ngeblur, tripod tak ada, diafragma gak pas, kecepatan rana nya pun ngaco, isonya sepertinya juga gak sesuai. duhhh.. sangat-sangat exposure yang gagap.. aaagghh..

yah tak apalah hasil jepret di kesempatan kedua ini gagal, namun yang pasti dia tak ragu lagi untuk belajar kembali mencoba dan tak ada satu hal pun yang akan jadi penghalang karena dia punya DIA yang selalu ada di sekitar ... menyertai, menemani dan menjaga.

ps. aku masih belum pinter njepret kembang api. tapi aku gak takut hunting sendirian, hehehe... :D

foto: jepretan yang masih gagap dari "The Thrilling Spectacular Fireworks in Ancol Sky" . jakarta, 8/1/2011