suatu ketika di kolong langit pukul 2 dini hari, dengan anggun kepulan asap hitam menari-nari mendekati diriku dan begitu saja tanpa membawa aroma apapun terus meliak-liuk dihadapanku. maka kunikmati saja dia terus menari. hawa dingin ikut menyegarkan suasana seakan mereka sudah janjian menghibur diriku yang terduduk di gelap malam itu. entah apa yang membawaku hingga aku ada di tempat itu, tempat di kolong langit beralaskan rerumputan diselimuti remang malam. semilir angin timur memandu tarian kepulan asap hitam itu,tarian yang membuat bulu kudukku berdiri namun manis terlihat. kukunci saja sasaran pandanganku dan mengikuti kepulan asap itu melesat kesana dan kemari. seketika ku berdiri dan kurasakan sentuhan kepulan asap hitam menyentuh lembut jemariku seakan mengajak aku berdansa bersamanya. semakin bersemangat angin timur memandu, dan semakin cepat ritme kami berdansa. dalam pelukan kepulan asap hitam semakin kutenggelam masuk ke dalam pesonanya. kunikmati suasana yang ada dan kutarik nafas panjang menjaring sebanyak mungkin oksigen. tanpa kuduga berbarengan dengan tarikan nafasku, kepulan asap hitam yang berdansa bersamaku itu ikut masuk menyusup rongga hidungku dan entah apa rencana kepulan asap hitam itu. uhukk.. hukk.. huk.. tersedak ku dibuatnya. dengan pandangan kosong.. akkhhh... biar saja, toh cuma asap yang sebentar saja ada lalu akan hilang dalam sekejap dengan sendirinya. waktu berlalu dan setiap pergantian hari kusediakan waktu duduk di kolong langit pukul 2 dini hari, tetap menanti saat-saat kepulan asap hitam datang kembali mengajakku berdansa bersamanya. hingga kehangatan mentari yang menyusup melewati jendela kamarku datang menampar wajahku dan memenggal mimpiku. suatu hari baru datang menyuguhi semangat dan harapan. hari baru yang kembali menajamkan tekadku untuk menikam dan mengakhiri 'rasa' yang bertahun-tahun mengendap dalam hatiku. 10 musim lalu yang telah kulewati hingga di musim kini aku berada, rasa itu terus saja melekat dalam hatiku. rasa yang sesungguhnya menyemangati hari. rasa yang membangkitkan gairah dan membuat ringan mengangkat beban hidup seberat apapun itu. rasa yang membawaku melayang hingga langit ke tujuh. rasa yang membuatku rela menyerahkan segala-galanya baik jiwa maupun raga. tapi aarrgghhh... dasar kutu kupret! rasa itu mengelabuiku dan perlahan rasa itu mencoba membunuhku. ada bagian dari jiwaku yang tak terima ancaman itu. kalau memang rasa itu mau membunuhku baiklah terjadi pertempuran dahulu, biarlah sama-sama disaksikan siapa yang unggul. rasa itu yang membunuhku atau aku yang membunuh rasa itu. tak jarang rasa itu memborbardir serangannya, setiap hari, setiap waktu, setiap detik, di setiap hela nafasku itu terus saja rasa itu menyerang, aku pun mencoba semampuku membunuhnya. dan kini seluruh duniapun mengenalku sebagai seorang pembunuh yang belum pernah membunuh tapi tetap saja pembunuh yang akan membunuh. berulang-ulang kali aku melakukan serangan balasan, bak seorang prajurit yang merelakan dirinya berada di garis depan yang siap menikam semua lawan, namun masih saja aku gagal membunuhnya. hingga di suatu senja saat kuprkatikkan strategi baru, kubiarkan saja rasa itu tak henti-hentinya melancarkan agresi hingga berbulan-bulan lamanya, kuabaikan saja serangannya dan tak kuladeni. dan berhasil... rasa itu seketika lengah dan membeku, maka tanpa pikir panjang kutikam saja, kurobek-robek, kubanting dan kucincang lalu kubungkus dalam karung goni, kubawa terbang menembus lapisan langit dan menerobos cakrawala kemudian kulempar ke api abadi hingga dia berubah menjadi asap hitam yang mengepul di udara. namun tanpa kuduga di hari setelah esok ketika aku santai bercengkrama dengan hembusan angin, rasa itu datang kembali memamerkan perilakunya dan menantangku. uggghhhhh.... samber geledek! sungguh menyebalkan hingga gemas aku dibuatnya dan ingin sekali mengkrikiti rel kereta sepanjang jakarta-jogja. oh, setan alas, aku mohon izinkan aku membunuhnya. please. seketika angin timur yang sudah sekian lama bersahabat denganku mengantarkan ke hadapanku secarik kertas buram dan mendarat di depan kakiku, kubaca pesan yang tertulis disitu, "sampai kapanpun kau tak akan mampu membunuhnya, karena rasa itu abadi dan akan tetap menempati ruang hatimu yang dalam". o .. m .. y .. g .. o .. d..!note: merdeka atoe mati? aakkhh .. andai saja kau mengerti, dengan segenap hati kurelakan diriku menjadi budak cintamu dan kuserahkan nyawaku seutuhnya dan mati demi menyenangkan hatimu. (aku mungkin aku memang terlahir sebagai orang yang kalah, dan kuterima kekalahanku).foto: monumen 1 maret, jogja, jawa tengah. (enaknya sore-sore jalan-jalan menyusuri malioboro hingga perempatan kantor pos pusat)
saat kelam menjadi hari-harikukala suram menawarkan kepahitandisitulah kusadari pendar berpaling darikukini malam dingin tak berkesudahan kujadikan tempat peraduankini sumpah serapah juga kutuk fasih terlontar, membuat lidah tak lagi keluhei kemunafikan dan ketololan mari bersama-sama busuk bersamaku
dan kita undang belatung berpesta dan bersenang-senangooohhh... terasa sudah pelita dalam kalbu meredupbiar segera ku songsong dan melebur ke dalam api abadi,
dimana terdapat ratapan dan kertakan gigi... biar mampus!foto: aku parkir sepeda kumbang di sawah 5an kilometer dari rumah mbah kung. desa sambirejo, kediri, jawa timur
panjang yang telah ditempuh cukup membuat baju di badan basah kucuran peluh, dan lihat saja betis ini perlahan membengkak. kerikil tajam dan topan menerjang semakin menancapkan diri ke pusat misi. linangan air mata tak mengecutkan senyum, malah melancarkan kesadaran menertawakan diri sendiri.
segala bersepakat mengisi ruang dan waktu, sementara ada baiknya ku taruh saja kisahku pada bingkai di tengah jalan.
ps. masih belum sampai ujung tapi letih mengancam...
Foto: taman di seberang stasiun tawang, semarang, jawa tengah. "abis dari sini kita muter semarang lagi ya p'teguh, kamu belum capek nemenin aku kan?" :)
ketika tak tertahan lagi - pulsa sudah mengering terhisap ratusan pesan layanan singkat yang tak kunjung juga berbalas. kuartikan saja begini: " mau apa lagi ini perempuan, sukanya kok bikin-bikin soal yang gak jelas dan mencari-cari alasan yang bisa memancing masalah aja. gak penting banget. tak perlu aku merespon dan tak perlu aku minta maaf. biar saja dan kuanggap itu semua tak pernah ada. lagipula kau pun bukan perempuan gemulai bening bersahaja yang dapat mengimbangi isi kepalaku. kau perempuan yang jauh dari kecantikan bunga wangi dalam hamparan ladang. kau perempuan yang belum pernah sekalipun mencari dan menemukan sumur pengetahuan di tempat dimana hikmat dan pengalaman berada. maka buat apa aku laki-laki kere tampan mahatahu sepertiku, membuang pulsaku percuma dan menyia-nyiakan waktu untuk perempuan rese pengganggu menyebalkan seperti kamu?".
jika begitu adanya, baiklah. mungkin kau lupa bahwa sebatang coklat pernah datang menghampiri mejamu; gadis-gadis jinak merpati ramai mengerumunimu, meski demikian kecut pengecut dalam dirimu saja sulit kau jinakkan. mungkin kau lupa bahwa seorang dara manis menghinggapimu, menyentuh bibirmu dan menggandeng tanganmu, meski demikian dengan adanya racun mematikan yang tersembunyi dalam dirimu kau tetap tersenyum setiap saat.
ya.. mungkin kita berdua sama-sama benar. dan untuk menjaga dari hal-hal yang menyebabkan perbantahan, mari kita masing-masing melanjutkan hidup!
Foto: malioboro, jogja. waktu sesi hunting dalam seminar fotografi. aku dapet jam tangan euy, lumayan bgt lah... :D
di tengah kesabaran bersabar menyabari hati yang tidak sabar dengan setengah sadar, manusia setengah siang setengah malam menyalak-nyalak.. cepatlah kau mentari menguapkan kubangan air mata ini!
segeralah kau rembulan menyudahi mimpi buruk ini!
ps. ingin rasanya kutunggangi cahaya dengan kecepatan 299279.5 Km/det. whuuuzzzz....!!
Foto: ri, sekiloan lagi kita nyampe di tempat doa Ganjuran, Jawa Tengah.
dipertengahan bulan ke-4 tahun 2009 langit biru terhampar dengan sedikit awan berarak. mentari segar bersinar. namun di sela itu semua, rintikan air jatuh menyirami bumi. gerimis bersepakat membasahi tanah kering dan tak mau kalah bersaing dengan deraian air mata sekumpulan orang berpakaian hitam-hitam di pesisir pantai jawa bagian tengah itu. setelah 31 tahun, bayi putih menggemaskan yang berpose telanjang tengkurep di meja kecil itu kini memilih menjadi abu yang tersimpan dalam guci perak antik. seorang ibu tua nampak sembab dengan linangan air mata perlahan mengangkat guci perak itu dan membuka tutupnya kemudian meyebar abu dalam guci perak itu ke dalam pecahan ombak diantara gelombang air pantai yang bergemuruh. satu laki-laki tua di sebelah kiri ibu tua itu hanya terdiam sedikit terisak dan mengelap cairan yang keluar dari lubang hidungnya. wanita setengah baya yang menggandeng anak kecil berumur 6 tahun di sebelah kanan ibu tua itu nampak tenang dan raut senyum pasrah tergaris di wajahnya. berjejer juga 3 laki-laki lainnya yang menatap itu semua dengan kuat dan tabah memandang ombak yang datang bergulung-gulung sampai membasahi celana mereka. di belakang jejeran itu juga tampak beberapa manusia dengan wajah datar hadir menyaksikan kepergian abu di lepas pantai itu. tak banyak yang hadir, tak seramai resepsi pernikahan yang dibayangkan, sedikit memori yang terkenang, sangat banyak yang terlupakan.berawal dari apa dan bagaimana, jelas yang terjadi memang serba mendadak. mendadak di tengah perjalanan saya memotret alam lukisan Pencipta, saya merasakan bumi berputar-putar. seketika tak kuasa tangan ini menggenggam alat potret yang tak sampai 1 kilo beratnya. lemas dan keringat dingin menjalar di tubuh saya. yang terasa hanya saya terantuk tanah berkerikil. mendadak pula saya berada di kamar yang serba putih. dinding bercat putih, ranjang dengan sprei putih selimut pun putih tanpa garisan hitam, meja berkayu putih dengan taplak rajutan putih berisi 3 buah jeruk dan 2 apel. lantai pun beralas keramik putih mengkilat. mendadak banyak orang berkerumun di sekitar saya, menanyakan kabar saya,menanayakan apa yang saya rasakan, menayakan apa yang telah saya alami hingga sampai seperti ini. mendadak bumi kembali berputar-putar mengocok isi perut saya hingga ingin muntah dibuatnya. mendadak saya berkelejatan. mendadak dokter berseragam putih memegang-megang saya. mendadak saya pun hilang kesadaran.dalam kesadaran saya hilang kesadaran itu, saya melihat diri saya. saya yang masih kecil dalam gandengan tangan emak menarik saya dari gonggongan bulldog di tengah perjalanan mengantar saya ke kelas taman kanak-kanak. bermain dan becanda saling memukul dan berkejaran. sungguh kelas mungil yang menyenangkan. tak jauh dari kelas mungil itu, seketik asaya melihat diri saya berseragam merah putih berdiri di tengah lapangan dengan teriknya panas sambil menyanyikan lagu kebangsaan menatap bendera. sempat di usir keluar kelas karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru, mendapat kado buku tulis dari teman, puas diberi uang saku 50 perak, senang dapat tahu isi gratis dari pelatihan dokter kecil, ikut jurit malam dan sempat dimarahin kakak pembina pramuka, masak sayur asam yang keaseman di kelas keterampilan, main lompat tali karet di lantai dua hingga sepatu saya terlepas dan terbang bebas ke lantai satu. di penghujung tahun ke enam pertama kalinya di gudang sebelah toilet sekolah itu mendengar cerita teman soal "masuk ke lubang", dengan otak yang setengah isi ini mencoba memahami maksudnya "lubang" itu apa? hanya berjalan kaki 10 menitan dari masa 6 tahun itu saya mendapati diri saya berdasi kupu-kupu warna biru juga dengan rok biru. rasanya tubuh kecil saya waktu itu habis termakan gak jelas di perjalanan sepanjang 1,5 jam-an dengan naik bis umum. karena waktu itu kediaman saya digusur dan saya harus menerima kenyataan dapat rumah yang lokasinya sangat jauh dari sekolah. di masa itu saya senang mempunyai banyak teman nakal dan aktif, namun saya hanya bisa diam tersenyum memandang mereka. di seragam selanjutnya dan waktu berikutnya, sekuel-sekuel yang saya lihat agak kabur gambarnya, sedikit terlihat saya melihat diri saya mencuri pandang ke arah cowok yang duduk di samping. agak blaur terlihat diri saya beramai-ramai maen ke berbagai pusat pertokoan, makan bareng di warung siap saji, beli pernak-pernik dan memburu baju diskonan. dengan gambar patah-patah sedikit hampir kabanyakan yang terlihat saya mendapati diri saya di jalanan, di rumah teman, di halte, di mall, ada beberapa adegan saya mendapati diri saya memakai rok beribadah. entah kenapa di masa itu saya mendapati diri saya tidak secara utuh. katakanlah dunia berputar, waktu terus berlalu, roda menggelinding, musim silih berganti. di tengah kesadaran saya hilang kesadaran. saya loncat dari satu babak ke babak lain kehidupan diri saya yang pernah saya lewati. tangis, tawa, haru, sesal, sedih, lega, bangga,senang, sial, malu, ... kembali menyaksikan semua itu, dengan kepala setengah isi ini saya rasakan hanya kepedihan di tengah senyuman. rasanya ada sesuatu yang kurang yang seharusnya saya lakukan, rasanya ada bagian yang saya harus andil di dalamnya, hanya saja masih belum sempat. rasanya masih ada sesal yang harus direlakan. rasanya tak ingin ada yang terpendam. dengan begitu banyak rasa yang saya inginkan, hingga tak sempat lagi sang waktu menunggu. akhirnya di tengah kesadaran saya hilang kesadaran,saya merasakan wajah saya tertutup kain putih dan isak tangis sekeliling memecah sunyi. hingga di tengah kesadaran saya hilang kesadaran, saya merasakan panas api dan kering menyentuh tubuh saya dan meleburkan saya didalamnya. sampai saat inilah di tengah kesadaran saya hilang kesadaran, saya terhempas dari guci perak dan melayang-layang bersama udara dan mengambang digelombang lautan dan ikut menguap kembali lagi bersatu bersama udara. terbang bebas sampai ke awan-awan dan menyapa langit, dan ingin duduk disebelah kanan-Nya. tapi tunggu... sungguh waktu yang saya lewati selama 31 tahun saya rasa masih belum. saya tak ingin semua cepat berlalu tanpa saya memetik hikmah dan menulari sesuatu yang positif di sekitar dan mengembalikan semua keberadaan diri saya dengan penuh ucapan syukur hanya untuk menyenangkan dan semakin dekat pada-Nya.
apakah disebut terlambat atau tidak; sesal kemudian atau tidak, nyata-nyata di warta gereja lokal tertulis berita lelayu; Rest In Pain (RIP) seorang perempuan 31 tahun merindu waktu; senin pahing 16 april 1978-kamis wage 16 april 2009. ps. sugeng tanggap warsa for my self... betapa aku takut 'mati' dan ingin hidup 'sehat'. Foto: mbak wiwit yang pake rok, mas inu yang meringis, mas dadang yang nyengir, dan si botak aku yang pose telanjang tengkurep. sorry yud lu gak ada, lu belum lahir siy...
Kali Code kang sumberé saka sikilé Gunung Merapi iki minangka salah siji kali kang duwé makna wigati tumrap para pedunung ing Propinsi Dhaérah Istiméwa Yogyakarta khususé dhaérah kang diliwati déning kali niki. Kanthi banyu kang asalé saka sawijining gunung kang isih aktif ing donya, banyuné dimanfaataké kanggo pangairan sawah ing Sleman , Bantul lan dipigunakaké minangka bahan baku banyu ngombé.Kali kang mbelah kutha Yogyakarta dadi loro iki sacara historis didadèkaké dhasar kanggo ngadegé Karajaan Mataram ing Yogyakarta.Amarga kali iki sumberé saka gunung geni kang isih aktif, kali iki kerep ngalami banjir lahar, utawa banjir kang diakibataké saka guguré utawa kèliné lahar adhem saka kawah Gunung Merapi, kang kèli déning udan. Kanggo ngantisipasi tekaning banjir lahar mau, pamaréntah kutha wis nggawé talud ing sadawaning pinggiran kali Code kang dumunung ana ing wewengkon Kutha Yogyakarta, lan kala-kala nganakaké pangerukan dhasar kali Code nganggo excavator. Ing pinggiré kali Code ana wangunan pamukiman kang dirancang déning budayawan YB Mangunwijaya, kang diarani Kampung Code. Kampung Code iki wis ngrengkuh pahargyan Aga Khan Award ing babagan arsitèktur.sumber: copy-paste from wikipedia.
notes: bangunan putih di pojok kanan itu ... tempatku "pernah"
foto: kali code, Jogyakarta.