Wednesday, April 8, 2009

less of me ...

Yohanes 19:1-30

-Yesus dihukum mati-

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya.
Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia, lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?"
Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap
Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata. Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas.
Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"
Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.


-Yesus disalibkan-

Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah. Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi."
Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.
Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis."
Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian--dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja.
Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu. Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"
Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

-Yesus mati-

Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci--:"Aku haus!"
Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

ps. dgn kekuatan memori 256mb di otak ini ngeloading kalimat-kalimat di atas lama bgt. hmm... perlu nambah memori ato kayae otaknya yg perlu di upgrade... still processing ... 0,001% ...

Foto: 'si anak ilang' di bukit doa Kerep, Ambarawa, Jawa Tengah.

Tuesday, April 7, 2009

autumn leaves

'gak ngerti kok tau-tau jalan yang biasanya aku lewatin pulang, belarakan dedaunan. dedauan yang entah darimana datang bersama angin dan berjatuhan di sepanjang langkah kakiku. mendarat di bahuku, pula menyentuh pipi dan lanjut meluncur ke bawah. satu daun berhasil ku tangkap dan kubidik pandanganku padanya. ia kering namun tampak indah, warnanya menampakkan kematangan yang sempurna. mau apa gerangan dedaunan ini. apa yang akan ia buat setelah ini. apakah hanya menuruti rencana alam. atau mungkin ia berniat menjadi humus yang bisa membuat dirinya berguna. bisa jadi memang tak sanggup lagi mencengkram dahan. atau apalah itu ..

entahlah ... syaraf nalar ini telah menjegal firasat, hingga aku tak mengerti apa yang terjadi. dan mungkin memang juga sama sekali gak ada hubungannya sama aku.

aku hanya bisa menikmati Eva Cassidy bersenandung ...

"The falling leaves drift by my window
The falling leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sunburned hands I used to hold

Since you went away the days grow long
And soon I'll hear old winter's song
But I miss you most of all, my darling
When autumn leaves start to fall

Since you went away the days grow long
And soon I'll hear old winter's song
But I miss you most of all, my darling
When autumn leaves start to fall

I miss you most of all, my darling
When autumn leaves start to fall"


Foto: sekitar Gunung Kelud, Jawa Timur. (hunting ama debbi, berangkat dari rumah mbah kung jam 3pagi. brrr.. dingin. tp
keren!)

Monday, April 6, 2009

my hiding place

angin memberi kabar bahwa sejak minggu pagi yang tak berawan, gadis bertelanjang kaki keluar dari sarangnya dan langsung berlari menuju barat. gadis bertelanjang kaki berlari dan terus lari menghindari masa depan dan menolak masa lalunya.

tersengal-sengal nafasnya, dahaga mengeringkan kerongkongannya, dan keringatpun beramai-ramai keluar dari pori-pori kulitnya. panas menyengat dan matahari tak henti membanggakan suryanya. gadis bertelanjang kaki terus berlari. kerikil tajam dilindasnya tanpa segan. aspal panas kebagian juga merasakan kasar telapak gadis bertelanjang kaki.

"hei, mau kemana buru-buru?" tanya seorang laki yang kebetulan berpas-pasan dengan gadis betelanjang kaki.
"peduli amat, bukan urusanmu!" teriak gadis bertelanjang kaki sambil terus berlari. gadis bertelanjang kaki memperlambat ritmenya. gadis bertelanjang kaki menengok ke arah seorang tua yang memanggil dirinya, "nak, sini mampir dulu, aku buatkan es teh manis yang segar untuk pelepas dahaga sembari kita duduk-duduk dan ngobrol di teras. mari lekas singgah ke gubukku. tanpa pikir panjang gadis bertelanjang kaki menjawab, "aku tidak mau, bosan!" orang tua itu mencoba berlari semampunya mengejar gadis bertelanjang kaki, "oh nak,
kau harus mampir. aku mengkhawatirkanmu, aku tak ingin kau menyesal nantinya, nak... nak.. nak...!"

gadis bertelanjang kaki tak menghiraukan undangan orang tua itu, ia terus mengayunkan langkah kakinya. pohon rindangpun tak mampu lagi merayu gadis bertelanjang kaki agar singgah dinaungannya. dan memang tak bisa disalahkan juga bila setelah mendengar kabar angin itu kemudian pohon rindang kesal pada gadis betelanjang kaki yang ternyata sangat bodoh, selalu menolak, merasa kuat dengan kemampuannya sendiri. "terus saja kau lari, hai gadis bertelanjang kaki. terus lah lari sampai tak sudi lagi oksigen merasuki paru-parumu. terus saja kau lari sampai lecet dan robek telapakmu. biar sekalian darah yang keluar dari pori-porimu. hai gadis bertelanjang kaki, kau mungkin bisa terus berlari, namun kau tak bisa bersembunyi!".


"Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?"
Mzm. 139:7"


Foto: bangunan gereja di desa Planjan. Gunung Kidul. Jawa Tengah.



Wednesday, April 1, 2009

orang hutan

karena tersedak di tengah mimpinya si orang terjaga dengan setengah terpejam, lalu memuaskan batuk-batuknya sambil meraba-raba mencari selimutnya yang tak lagi membalut tubuh keringnya. tangannya bekerja mencari ke arah kanan dan kiri tapi tidak ditemukan juga. terpaksa ia membuka kelopak mata untuk meyakinkan dirinya apakah selimut itu lenyap. dan seketika, tak hanya kelopak mata itu yang terbuka, malah ia terbelalak karena mendapati dirinya tak lagi di ranjang sprei lorengnya. terperanjat ia bangun, dan berdiri. lembab dan dingin ia rasakan, ternyata bongkahan kayu tua itu yang tadi menjadi penopang kepalanya, dan ternyata tumpukan dedaunan kering itu yang tadi menjadi pembaringannya.

dalam heran ia bertanya, "di mana ini?" ia bertanya lagi, "tempat apa ini?" kembali ia bertanya "bagaimana aku bisa ada di sini?" hanya selaput remang dan belaian angin yang menjawab semua pertanyaan si orang.

karena begitu, si orang kemudian hanya terdiam. duduk ia sambil menelan ludah. haus. lehernya berputar mencari air. si orang berdiri, berjalan mencoba berkenalan dengan sekitarnya.

entah pagi, entah siang, entah sore, entah malam. yang jelas saat itu hangat terasa, namun banyak asap semacam kabut melayang-layang, tak ada sinar yang menyeruak, tak ada suara jangkrik tapi kicauan para burung memecah sepi. indah sekali lagu yang mereka dendangkan. sebentar si orang menengadah ke atas. hanya dedaunan dan ranting menaungi. dalam benak si orang rindu ketemu cakrawala. beberapa lama dalam jalannya si orang mendapati aliran air. semeter di samping kanannya si orang meliat air luber dari dalam tanah dan ngalir ke sekitar. si orang mendekat. kemudian menjadikan ke dua telapak tangannya sebagai gayung menciduk luberan air itu.

setelah memuaskan dahaga, si orang kembali melanjutkan langkahnya. 'gak ngerti mau kemana. hanya mengikuti kaki membawa. untung saja lambung belum meronta minta jatah. tapi si orang sudah tahu mau dikasih apa lambung itu, karena sepanjang jalan banyak pohon yang memamerkan buah ranumnya. dan tanaman rambat pun menggoda minta dicabut.

mendadak si orang merasakan bulu kuduknya merinding dan takut mengikuti. si orang melihat ada satu sosok,
bukan seperti yang pernah ia tahu atau kenal sebelumnya. sosok yang aneh baginya. tapi sungguh nyata di hadapannya. "ting!" tiba-tiba sosok berkedip. sosok itu tidak tinggi juga tidak pendek, dia bulat, punya dua tangan dan sepasang kaki juga. hanya saja dia tidak punya badan, hanya bulat, bertangan dan berkaki. bulatan itu mempunyai bulatan lagi di tengah, dan ada semacam sinar menyejukkan terpancar dari bulatan bening itu. bulatan bening yang pusarannya bisa berputar ke mana dia mau. sosok itu seperti mata. ya. dan dia kembali mengerling.. tepat ke arah si orang. entah bagaimana, otomatis si orang pun juga mendekatinya. mereka pun berhadap-hadapan. matanya dan mata si orang beradu. si orang pun tersenyum disusul kerlingan sosok itu. "kau kunamakan third eye!" begitu kata si orang kepada sosok itu.

yahhh... dan kembali tersenyum si orang. merasa puas dan memiliki segalanya. aktifitas apapun bisa ia lakukan. bebas mau apa aja. ada burung yang bisa diajak ngobrol, semut dan serangga lain yang ngajak bercanda. makhluk omnivora teman bermain. karnivora yang menjagai. pun jika ada suatu hal yang menjadi ancaman, third eye ini siap menjamin kebaikan. semua terasa komplit dan sungguh amat baik adanya.

kelamaan si orang tak pusing-pusing lagi mikir apa jawaban dari semua tanyanya, karena si orang sudah merasa cukup.

karenanya si orang bahagia menjadi "orang hutan".

Foto: sekitar goa Seropan, Gunung Kidul, Jawa Tengah.

Sunday, March 29, 2009

otakku miring

aku benci bila sentimental ini kambuh lagi...

sejak 3 bulan ini aku rasakan dunia ini miring. tidak seimbang. berat sebelah. berat oleh tekanan kenyataan yang tak bisa ditawar lagi. ya, kenyataan yang tak bisa ditawar bahwa dia memang tidak lagi disini. kenyataan yang menempeleng lamunku yang selama ini terus menerus mencari-cari keberadaan dia.


pantas saja 3 bulan terakhir hp ini tidak pernah menyalak. biasanya bila datang suatu pesan, hp butut ini menyalak minta diperhatikan.

pantas saja capcay favorit ku berasa hambar. pantas saja merkuri sepanjang 20 kilometer menuju rumahku padam. gelap. ternyata semua itu bersatu padu menjawab tanyaku selama ini. dia tidak lagi di sini ...

dia benar-benar telah pergi ... tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

dia pergi ke tempat dia berpulang. ke tempat dia pernah menikmati masa kecilnya di sawah belakang rumah. ke tempat dia sempat-sempatnya menangisi kekasih hatinya.ke tempat dia menabur mimpi-mimpinya. ke tempat dia mengamini masa depannya.

jika memang begitu yang sudah digariskan, aku hanya mampu berkata, "selamat mewujudkan impian-impianmu, my dear be@st friend."

** tinggal aku sendiri yang tetap miring dan masih mencari keseimbangan **

Foto: pantai parangkusumo, Bantul, Jawa Tengah.

Friday, March 27, 2009

berendam di Batur

seperti air begitulah hidupku mengalir. menjalani segala tanpa tekanan, just let it flow. mengakhiri bunga tidur di subuh hari. menjadi aset produksi hingga petang bahkan malam hari. dan kembali ke pembaringan dini hari. ya begitu, terus bergulir dari waktu ke waktu. jam, menit, detik terlewati sesuai ritme aliran air ciliwung yang membuat sesak tarikan nafas ini.

mengalir sih mengalir.. tapi nurani yang sedikit waras ini tak ingin hanya sekadar.

awas..! lihat saja nanti ya, ciliwung! aku gak sudi lagi mengalir di tubuhmu. aku akan menemukan aliran yang lain. walau yang kutemukan hanya parit kecil, tapi tak mengapa asal itu bening nan jernih.

ps. kalo hanya berendam di danau Batur Bali, asik juga kali ya :P

Foto: Danau Batur, Bali

Tuesday, March 24, 2009

lawangsewu

samber geledek ... setan alas .. sungguh sial... bayangan itu terus mengikuti. tidakkah ia punya rumah sendiri? waktu aku tadi garuk-garuk bokongku, apakah ia sudah mengikuti juga? sejak kapan ia memata-mataiku? untung saja tidak ada suatu apapun yang berharga di diriku yang pantas dia rampok. "maaf saja bung, jika anda berniat merampok saya, maka saya ikut menyesal jika anda kecewa. karna tidak ada dalam saya yang cukup berharga untuk anda ambil. bahkan harga diri sekalipun." puas sekali rasanya bila kata-kata itu sungguh aku ucapkan pada bayangan itu. baiklah, tinggal aku tunggu saja dia menyergap, aku pun sudah membuat rencana matang untuk menyambut datangnya.

aku rasakan ringan sekali langkahku dengan segala ketidakpunyaan. tak ada impian muluk yang menyumbat otak kanan ini. aku sungguh bersyukur tidak pandai berhitung, maka aku tidak perlu pusing-pusing menghitung nominal di saku ini. aku pun sayang pada lambung ini, karena dia tidak rewel terus minta dijejali sembako. yah.. aku tak mau tertular dengan virus-virus duniawi. walau aku akui aku memang bergaul akrab dengan duniawi tapi sungguh ada suatu sisi jahat yang aku pun enggan mendekati.

aku mencintai kehampaan, aku jatuh cinta pada kekosongan. sepi dan dingin menjadi teman akrabku. sungguh menyenangkan. tapi entah kenapa setiap kali aku menghayati hal itu, terasa telinga ini perih seperti ada yang menjewer.

duh.. bayangan itu mendekat... ia besar.. hitam. pekat. semilir angin yang mengikuti bayangan itu membuat kuduk ku merinding. ia pun semakin dekat. sangat menyeramkan. ya dia mendekat, tambah dekat. ingin kaki ini mengambil langkah seribu. tapi seperti patung tubuh ini berdiri. meski tadi aku sudah mempersiapkan diri menyambut bayangan itu, tapi tetap takut ini tersenyum puas melihat wajah panikku.

toloooong.. dalam hati aku sekuat tenaga menjerit!

ah.. itu dia selangkah di depanku ada sebuah pintu. seakan-akan pintu itu tercipta dari getaran jerit suara hatiku. aku mau ke sana, aku mau mengetuk pintu itu. tapi, TIDAK..! berbarengan dengan ketukan pertama di pintu itu, aku sudah berada dalam dekapan bayang itu, ia menyumbat mulutku hingga tak sempat lagi ku ucapkan kata-kata yang tadi telah aku persiapkan.

hmmpffhhh......


I knocked on heaven's door but instead hell's gate opened up!

Foto: Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah