Tuesday, April 28, 2009

penolakan

ketika tak tertahan lagi - pulsa sudah mengering terhisap ratusan pesan layanan singkat yang tak kunjung juga berbalas. kuartikan saja begini: " mau apa lagi ini perempuan, sukanya kok bikin-bikin soal yang gak jelas dan mencari-cari alasan yang bisa memancing masalah aja. gak penting banget. tak perlu aku merespon dan tak perlu aku minta maaf. biar saja dan kuanggap itu semua tak pernah ada. lagipula kau pun bukan perempuan gemulai bening bersahaja yang dapat mengimbangi isi kepalaku. kau perempuan yang jauh dari kecantikan bunga wangi dalam hamparan ladang. kau perempuan yang belum pernah sekalipun mencari dan menemukan sumur pengetahuan di tempat dimana hikmat dan pengalaman berada. maka buat apa aku laki-laki kere tampan mahatahu sepertiku, membuang pulsaku percuma dan menyia-nyiakan waktu untuk perempuan rese pengganggu menyebalkan seperti kamu?".

jika begitu adanya, baiklah. mungkin kau lupa bahwa sebatang coklat pernah datang menghampiri mejamu; gadis-gadis jinak merpati ramai mengerumunimu,
meski demikian kecut pengecut dalam dirimu saja sulit kau jinakkan. mungkin kau lupa bahwa seorang dara manis menghinggapimu, menyentuh bibirmu dan menggandeng tanganmu, meski demikian dengan adanya racun mematikan yang tersembunyi dalam dirimu kau tetap tersenyum setiap saat.

ya.. mungkin kita berdua sama-sama benar. dan untuk menjaga dari hal-hal yang menyebabkan perbantahan, mari kita masing-masing melanjutkan hidup!

Foto: malioboro, jogja. waktu sesi hunting dalam seminar fotografi. aku dapet jam tangan euy, lumayan bgt lah... :D

Thursday, April 23, 2009

bulp

di tengah kesabaran bersabar menyabari hati yang tidak sabar dengan setengah sadar, manusia setengah siang setengah malam menyalak-nyalak.. cepatlah kau mentari menguapkan kubangan air mata ini!
segeralah kau rembulan menyudahi mimpi buruk ini!

ps. ingin rasanya kutunggangi cahaya dengan kecepatan 299279.5 Km/det. whuuuzzzz....!!


Foto: ri, sekiloan lagi kita nyampe di tempat doa Ganjuran, Jawa Tengah.

Thursday, April 16, 2009

memento mori!

dipertengahan bulan ke-4 tahun 2009 langit biru terhampar dengan sedikit awan berarak. mentari segar bersinar. namun di sela itu semua, rintikan air jatuh menyirami bumi. gerimis bersepakat membasahi tanah kering dan tak mau kalah bersaing dengan deraian air mata sekumpulan orang berpakaian hitam-hitam di pesisir pantai jawa bagian tengah itu. setelah 31 tahun, bayi putih menggemaskan yang berpose telanjang tengkurep di meja kecil itu kini memilih menjadi abu yang tersimpan dalam guci perak antik. seorang ibu tua nampak sembab dengan linangan air mata perlahan mengangkat guci perak itu dan membuka tutupnya kemudian meyebar abu dalam guci perak itu ke dalam pecahan ombak diantara gelombang air pantai yang bergemuruh. satu laki-laki tua di sebelah kiri ibu tua itu hanya terdiam sedikit terisak dan mengelap cairan yang keluar dari lubang hidungnya. wanita setengah baya yang menggandeng anak kecil berumur 6 tahun di sebelah kanan ibu tua itu nampak tenang dan raut senyum pasrah tergaris di wajahnya. berjejer juga 3 laki-laki lainnya yang menatap itu semua dengan kuat dan tabah memandang ombak yang datang bergulung-gulung sampai membasahi celana mereka. di belakang jejeran itu juga tampak beberapa manusia dengan wajah datar hadir menyaksikan kepergian abu di lepas pantai itu. tak banyak yang hadir, tak seramai resepsi pernikahan yang dibayangkan, sedikit memori yang terkenang, sangat banyak yang terlupakan.

berawal dari apa dan bagaimana, jelas yang terjadi memang serba mendadak. mendadak di tengah perjalanan saya memotret alam lukisan Pencipta, saya merasakan bumi berputar-putar. seketika tak kuasa tangan ini menggenggam alat potret yang tak sampai 1 kilo beratnya. lemas dan keringat dingin menjalar di tubuh saya. yang terasa hanya saya terantuk tanah berkerikil. mendadak pula saya berada di kamar yang serba putih. dinding bercat putih, ranjang dengan sprei putih selimut pun putih tanpa garisan hitam, meja berkayu putih dengan taplak rajutan putih berisi 3 buah jeruk dan 2 apel. lantai pun beralas keramik putih mengkilat. mendadak banyak orang berkerumun di sekitar saya, menanyakan kabar saya,menanayakan apa yang saya rasakan, menayakan apa yang telah saya alami hingga sampai seperti ini. mendadak bumi kembali berputar-putar mengocok isi perut saya hingga ingin muntah dibuatnya. mendadak saya berkelejatan. mendadak dokter berseragam putih memegang-megang saya. mendadak saya pun hilang kesadaran.

dalam kesadaran saya hilang kesadaran itu, saya melihat diri saya. saya yang masih kecil dalam gandengan tangan emak menarik saya dari gonggongan bulldog di tengah perjalanan mengantar saya ke kelas taman kanak-kanak. bermain dan becanda saling memukul dan berkejaran. sungguh kelas mungil yang menyenangkan. tak jauh dari kelas mungil itu, seketik asaya melihat diri saya berseragam merah putih berdiri di tengah lapangan dengan teriknya panas sambil menyanyikan lagu kebangsaan menatap bendera. sempat di usir keluar kelas karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru, mendapat kado buku tulis dari teman, puas diberi uang saku 50 perak, senang dapat tahu isi gratis dari pelatihan dokter kecil, ikut jurit malam dan sempat dimarahin kakak pembina pramuka, masak sayur asam yang keaseman di kelas keterampilan, main lompat tali karet di lantai dua hingga sepatu saya terlepas dan terbang bebas ke lantai satu. di penghujung tahun ke enam pertama kalinya di gudang sebelah toilet sekolah itu mendengar cerita teman soal "masuk ke lubang", dengan otak yang setengah isi ini mencoba memahami maksudnya "lubang" itu apa? hanya berjalan kaki 10 menitan dari masa 6 tahun itu saya mendapati diri saya berdasi kupu-kupu warna biru juga dengan rok biru. rasanya tubuh kecil saya waktu itu habis termakan gak jelas di perjalanan sepanjang 1,5 jam-an dengan naik bis umum. karena waktu itu kediaman saya digusur dan saya harus menerima kenyataan dapat rumah yang lokasinya sangat jauh dari sekolah. di masa itu saya senang mempunyai banyak teman nakal dan aktif, namun saya hanya bisa diam tersenyum memandang mereka. di seragam selanjutnya dan waktu berikutnya, sekuel-sekuel yang saya lihat agak kabur gambarnya, sedikit terlihat saya melihat diri saya mencuri pandang ke arah cowok yang duduk di samping. agak blaur terlihat diri saya beramai-ramai maen ke berbagai pusat pertokoan, makan bareng di warung siap saji, beli pernak-pernik dan memburu baju diskonan. dengan gambar patah-patah sedikit hampir kabanyakan yang terlihat saya mendapati diri saya di jalanan, di rumah teman, di halte, di mall, ada beberapa adegan saya mendapati diri saya memakai rok beribadah. entah kenapa di masa itu saya mendapati diri saya tidak secara utuh.

katakanlah dunia berputar, waktu terus berlalu, roda menggelinding, musim silih berganti. di tengah kesadaran saya hilang kesadaran. saya loncat dari satu babak ke babak lain kehidupan diri saya yang pernah saya lewati. tangis, tawa, haru, sesal, sedih, lega, bangga,senang, sial, malu, ... kembali menyaksikan semua itu, dengan kepala setengah isi ini saya rasakan hanya kepedihan di tengah senyuman. rasanya ada sesuatu yang kurang yang seharusnya saya lakukan, rasanya ada bagian yang saya harus andil di dalamnya, hanya saja masih belum sempat. rasanya masih ada sesal yang harus direlakan. rasanya tak ingin ada yang terpendam. dengan begitu banyak rasa yang saya inginkan, hingga tak sempat lagi sang waktu menunggu. akhirnya di tengah kesadaran saya hilang kesadaran,saya merasakan wajah saya tertutup kain putih dan isak tangis sekeliling memecah sunyi. hingga di tengah kesadaran saya hilang kesadaran, saya merasakan panas api dan kering menyentuh tubuh saya dan meleburkan saya didalamnya.

sampai saat inilah di tengah kesadaran saya hilang kesadaran, saya terhempas dari guci perak dan melayang-layang bersama udara dan mengambang digelombang lautan dan ikut menguap kembali lagi bersatu bersama udara. terbang bebas sampai ke awan-awan dan menyapa langit, dan ingin duduk disebelah kanan-Nya. tapi tunggu... sungguh waktu yang saya lewati selama 31 tahun saya rasa masih belum. saya tak ingin semua cepat berlalu tanpa saya memetik hikmah dan menulari sesuatu yang positif di sekitar dan mengembalikan semua keberadaan diri saya dengan penuh ucapan syukur hanya untuk menyenangkan dan semakin dekat pada-Nya.

apakah disebut terlambat atau tidak; sesal
kemudian atau tidak, nyata-nyata di warta gereja lokal tertulis berita lelayu; Rest In Pain (RIP) seorang perempuan 31 tahun merindu waktu; senin pahing 16 april 1978-kamis wage 16 april 2009.

ps. sugeng tanggap warsa for my self... betapa aku takut 'mati' dan ingin hidup 'sehat'.

Foto: mbak wiwit yang pake rok, mas inu yang meringis, mas dadang yang nyengir, dan si botak aku yang pose telanjang tengkurep. sorry yud lu gak ada, lu belum lahir siy...

Monday, April 13, 2009

X-code

Kali Code kang sumberé saka sikilé Gunung Merapi iki minangka salah siji kali kang duwé makna wigati tumrap para pedunung ing Propinsi Dhaérah Istiméwa Yogyakarta khususé dhaérah kang diliwati déning kali niki. Kanthi banyu kang asalé saka sawijining gunung kang isih aktif ing donya, banyuné dimanfaataké kanggo pangairan sawah ing Sleman , Bantul lan dipigunakaké minangka bahan baku banyu ngombé.

Kali kang mbelah kutha Yogyakarta dadi loro iki sacara historis didadèkaké dhasar kanggo ngadegé Karajaan Mataram ing Yogyakarta.

Amarga kali iki sumberé saka gunung geni kang isih aktif, kali iki kerep ngalami banjir lahar, utawa banjir kang diakibataké saka guguré utawa kèliné lahar adhem saka kawah Gunung Merapi, kang kèli déning udan. Kanggo ngantisipasi tekaning banjir lahar mau, pamaréntah kutha wis nggawé talud ing sadawaning pinggiran kali Code kang dumunung ana ing wewengkon Kutha Yogyakarta, lan kala-kala nganakaké pangerukan dhasar kali Code nganggo excavator. Ing pinggiré kali Code ana wangunan pamukiman kang dirancang déning budayawan YB Mangunwijaya, kang diarani Kampung Code. Kampung Code iki wis ngrengkuh pahargyan Aga Khan Award ing babagan arsitèktur.

sumber: copy-paste from wikipedia.

notes: bangunan putih di pojok kanan itu ... tempatku "pernah"

foto: kali code, Jogyakarta.

Wednesday, April 8, 2009

less of me ...

Yohanes 19:1-30

-Yesus dihukum mati-

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya.
Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia, lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?"
Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap
Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata. Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas.
Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"
Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.


-Yesus disalibkan-

Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah. Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi."
Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.
Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis."
Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian--dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja.
Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu. Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"
Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

-Yesus mati-

Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci--:"Aku haus!"
Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

ps. dgn kekuatan memori 256mb di otak ini ngeloading kalimat-kalimat di atas lama bgt. hmm... perlu nambah memori ato kayae otaknya yg perlu di upgrade... still processing ... 0,001% ...

Foto: 'si anak ilang' di bukit doa Kerep, Ambarawa, Jawa Tengah.

Tuesday, April 7, 2009

autumn leaves

'gak ngerti kok tau-tau jalan yang biasanya aku lewatin pulang, belarakan dedaunan. dedauan yang entah darimana datang bersama angin dan berjatuhan di sepanjang langkah kakiku. mendarat di bahuku, pula menyentuh pipi dan lanjut meluncur ke bawah. satu daun berhasil ku tangkap dan kubidik pandanganku padanya. ia kering namun tampak indah, warnanya menampakkan kematangan yang sempurna. mau apa gerangan dedaunan ini. apa yang akan ia buat setelah ini. apakah hanya menuruti rencana alam. atau mungkin ia berniat menjadi humus yang bisa membuat dirinya berguna. bisa jadi memang tak sanggup lagi mencengkram dahan. atau apalah itu ..

entahlah ... syaraf nalar ini telah menjegal firasat, hingga aku tak mengerti apa yang terjadi. dan mungkin memang juga sama sekali gak ada hubungannya sama aku.

aku hanya bisa menikmati Eva Cassidy bersenandung ...

"The falling leaves drift by my window
The falling leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sunburned hands I used to hold

Since you went away the days grow long
And soon I'll hear old winter's song
But I miss you most of all, my darling
When autumn leaves start to fall

Since you went away the days grow long
And soon I'll hear old winter's song
But I miss you most of all, my darling
When autumn leaves start to fall

I miss you most of all, my darling
When autumn leaves start to fall"


Foto: sekitar Gunung Kelud, Jawa Timur. (hunting ama debbi, berangkat dari rumah mbah kung jam 3pagi. brrr.. dingin. tp
keren!)

Monday, April 6, 2009

my hiding place

angin memberi kabar bahwa sejak minggu pagi yang tak berawan, gadis bertelanjang kaki keluar dari sarangnya dan langsung berlari menuju barat. gadis bertelanjang kaki berlari dan terus lari menghindari masa depan dan menolak masa lalunya.

tersengal-sengal nafasnya, dahaga mengeringkan kerongkongannya, dan keringatpun beramai-ramai keluar dari pori-pori kulitnya. panas menyengat dan matahari tak henti membanggakan suryanya. gadis bertelanjang kaki terus berlari. kerikil tajam dilindasnya tanpa segan. aspal panas kebagian juga merasakan kasar telapak gadis bertelanjang kaki.

"hei, mau kemana buru-buru?" tanya seorang laki yang kebetulan berpas-pasan dengan gadis betelanjang kaki.
"peduli amat, bukan urusanmu!" teriak gadis bertelanjang kaki sambil terus berlari. gadis bertelanjang kaki memperlambat ritmenya. gadis bertelanjang kaki menengok ke arah seorang tua yang memanggil dirinya, "nak, sini mampir dulu, aku buatkan es teh manis yang segar untuk pelepas dahaga sembari kita duduk-duduk dan ngobrol di teras. mari lekas singgah ke gubukku. tanpa pikir panjang gadis bertelanjang kaki menjawab, "aku tidak mau, bosan!" orang tua itu mencoba berlari semampunya mengejar gadis bertelanjang kaki, "oh nak,
kau harus mampir. aku mengkhawatirkanmu, aku tak ingin kau menyesal nantinya, nak... nak.. nak...!"

gadis bertelanjang kaki tak menghiraukan undangan orang tua itu, ia terus mengayunkan langkah kakinya. pohon rindangpun tak mampu lagi merayu gadis bertelanjang kaki agar singgah dinaungannya. dan memang tak bisa disalahkan juga bila setelah mendengar kabar angin itu kemudian pohon rindang kesal pada gadis betelanjang kaki yang ternyata sangat bodoh, selalu menolak, merasa kuat dengan kemampuannya sendiri. "terus saja kau lari, hai gadis bertelanjang kaki. terus lah lari sampai tak sudi lagi oksigen merasuki paru-parumu. terus saja kau lari sampai lecet dan robek telapakmu. biar sekalian darah yang keluar dari pori-porimu. hai gadis bertelanjang kaki, kau mungkin bisa terus berlari, namun kau tak bisa bersembunyi!".


"Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?"
Mzm. 139:7"


Foto: bangunan gereja di desa Planjan. Gunung Kidul. Jawa Tengah.



Wednesday, April 1, 2009

orang hutan

karena tersedak di tengah mimpinya si orang terjaga dengan setengah terpejam, lalu memuaskan batuk-batuknya sambil meraba-raba mencari selimutnya yang tak lagi membalut tubuh keringnya. tangannya bekerja mencari ke arah kanan dan kiri tapi tidak ditemukan juga. terpaksa ia membuka kelopak mata untuk meyakinkan dirinya apakah selimut itu lenyap. dan seketika, tak hanya kelopak mata itu yang terbuka, malah ia terbelalak karena mendapati dirinya tak lagi di ranjang sprei lorengnya. terperanjat ia bangun, dan berdiri. lembab dan dingin ia rasakan, ternyata bongkahan kayu tua itu yang tadi menjadi penopang kepalanya, dan ternyata tumpukan dedaunan kering itu yang tadi menjadi pembaringannya.

dalam heran ia bertanya, "di mana ini?" ia bertanya lagi, "tempat apa ini?" kembali ia bertanya "bagaimana aku bisa ada di sini?" hanya selaput remang dan belaian angin yang menjawab semua pertanyaan si orang.

karena begitu, si orang kemudian hanya terdiam. duduk ia sambil menelan ludah. haus. lehernya berputar mencari air. si orang berdiri, berjalan mencoba berkenalan dengan sekitarnya.

entah pagi, entah siang, entah sore, entah malam. yang jelas saat itu hangat terasa, namun banyak asap semacam kabut melayang-layang, tak ada sinar yang menyeruak, tak ada suara jangkrik tapi kicauan para burung memecah sepi. indah sekali lagu yang mereka dendangkan. sebentar si orang menengadah ke atas. hanya dedaunan dan ranting menaungi. dalam benak si orang rindu ketemu cakrawala. beberapa lama dalam jalannya si orang mendapati aliran air. semeter di samping kanannya si orang meliat air luber dari dalam tanah dan ngalir ke sekitar. si orang mendekat. kemudian menjadikan ke dua telapak tangannya sebagai gayung menciduk luberan air itu.

setelah memuaskan dahaga, si orang kembali melanjutkan langkahnya. 'gak ngerti mau kemana. hanya mengikuti kaki membawa. untung saja lambung belum meronta minta jatah. tapi si orang sudah tahu mau dikasih apa lambung itu, karena sepanjang jalan banyak pohon yang memamerkan buah ranumnya. dan tanaman rambat pun menggoda minta dicabut.

mendadak si orang merasakan bulu kuduknya merinding dan takut mengikuti. si orang melihat ada satu sosok,
bukan seperti yang pernah ia tahu atau kenal sebelumnya. sosok yang aneh baginya. tapi sungguh nyata di hadapannya. "ting!" tiba-tiba sosok berkedip. sosok itu tidak tinggi juga tidak pendek, dia bulat, punya dua tangan dan sepasang kaki juga. hanya saja dia tidak punya badan, hanya bulat, bertangan dan berkaki. bulatan itu mempunyai bulatan lagi di tengah, dan ada semacam sinar menyejukkan terpancar dari bulatan bening itu. bulatan bening yang pusarannya bisa berputar ke mana dia mau. sosok itu seperti mata. ya. dan dia kembali mengerling.. tepat ke arah si orang. entah bagaimana, otomatis si orang pun juga mendekatinya. mereka pun berhadap-hadapan. matanya dan mata si orang beradu. si orang pun tersenyum disusul kerlingan sosok itu. "kau kunamakan third eye!" begitu kata si orang kepada sosok itu.

yahhh... dan kembali tersenyum si orang. merasa puas dan memiliki segalanya. aktifitas apapun bisa ia lakukan. bebas mau apa aja. ada burung yang bisa diajak ngobrol, semut dan serangga lain yang ngajak bercanda. makhluk omnivora teman bermain. karnivora yang menjagai. pun jika ada suatu hal yang menjadi ancaman, third eye ini siap menjamin kebaikan. semua terasa komplit dan sungguh amat baik adanya.

kelamaan si orang tak pusing-pusing lagi mikir apa jawaban dari semua tanyanya, karena si orang sudah merasa cukup.

karenanya si orang bahagia menjadi "orang hutan".

Foto: sekitar goa Seropan, Gunung Kidul, Jawa Tengah.